PUNGGAWATECH, Dominasi Nike dan Adidas yang telah berlangsung selama puluhan tahun di industri sepatu olahraga kini menghadapi tantangan serius. Sebuah merek asal Swiss yang awalnya hanya dikenal di kalangan pelari profesional, On Running, secara mengejutkan berhasil merangsek masuk ke pasar premium dan mulai menggerogoti pangsa pasar dua raksasa dunia tersebut.
Berdasarkan laporan performa tahun 2024, fenomena ini menandai pergeseran besar dalam peta persaingan global, di mana konsumen mulai beralih dari sekadar nama besar menuju inovasi fungsional dan kenyamanan pasca-pandemi.
Teknologi CloudTech: Kunci Inovasi On
Salah satu faktor utama yang membuat On mampu bersaing dengan teknologi Air milik Nike atau Boost milik Adidas adalah sistem bantalan CloudTech. Teknologi ini menawarkan struktur sol unik yang memberikan pendaratan empuk namun tetap responsif saat lepas landas.
Berbeda dengan pendekatan pemasaran agresif Nike dan Adidas yang sangat bergantung pada endorsement budaya pop, On membangun reputasinya melalui On Lab di Zurich dengan fokus pada riset mendalam. On juga mengambil langkah progresif dalam isu keberlanjutan, dengan target penggunaan 100% material daur ulang pada tahun depan, sebuah nilai tambah bagi konsumen modern yang makin sadar lingkungan.
Strategi Roger Federer dan Ekspansi Global
Momentum On melesat tajam setelah legenda tenis Roger Federer bergabung sebagai pemegang saham sekaligus kolaborator pada 2018. Lahirnya koleksi “The Roger” tidak hanya memperkuat posisi On di dunia tenis, tetapi juga menjembatani batas antara sepatu lari teknis dan streetwear kasual.
Keberhasilan On juga terlihat dari angka-angka fantastis:
- Pertumbuhan Pendapatan: Pada 2022, pendapatan naik hampir 70% dan mencapai 2,1 miliar US Dollar pada 2023.
- Lonjakan Penjualan Langsung (DTC): Penjualan melalui kanal mandiri melonjak 54,7% pada Kuartal II 2024.
- Dominasi Retail: Retailer besar seperti Foot Locker dilaporkan mulai meningkatkan pesanan untuk On sambil mengurangi porsi pesanan untuk brand tradisional yang mulai stagnan.
Pergeseran Gaya Hidup Pasca-Pandemi
Tren bekerja dari rumah (work from home) telah mengubah preferensi konsumen. Batas antara sepatu olahraga dan sepatu kantor kini semakin tipis. On memanfaatkan peluang ini dengan desain yang futuristik namun cukup elegan untuk dipakai ke kantor atau acara kasual.
Struktur kepemimpinan On yang kolaboratif—di mana keputusan dibuat secara kolektif oleh para pendiri—memungkinkan mereka bergerak lebih lincah dibandingkan birokrasi raksasa seperti Nike yang belakangan ini dikritik karena mulai kehilangan sentuhan dengan komunitas pelari akar rumput.
Pelajaran Bagi Brand Lokal Indonesia
Fenomena On Running menjadi inspirasi sekaligus pelajaran bagi industri sepatu lokal Indonesia seperti 910 (Nine Ten), Mills, Specs, hingga Nah Project. On membuktikan bahwa merek kecil bisa menjadi raksasa melalui:
- Keunikan Teknologi: Memiliki ciri khas seperti CloudTech agar tidak hanya dianggap mengekor tren.
- Distribusi Cermat: Menggabungkan penjualan langsung (online) dengan kehadiran di departemen store ternama untuk membangun prestise.
- Kolaborasi Strategis: Menggandeng figur publik yang relevan untuk membangun identitas brand yang kuat.
Kebangkitan On menunjukkan bahwa dalam industri teknologi dan fashion, tidak ada dominasi yang abadi. Inovasi yang tajam dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen adalah senjata utama untuk menggoyang kemapanan para penguasa pasar.


Tinggalkan Balasan