BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

PUNGGAWATECH, MAKASSAR — Bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an hingga 1990-an, ada satu benda yang nyaris mustahil absen dari ruang tamu atau kamar tidur keluarga Indonesia: mini compo. Perangkat audio kompak dengan lampu equalizer yang menari-nari mengikuti irama musik, menemani jutaan orang menikmati putaran kaset pita band-band legendaris. Dan dari sekian banyak merek yang bersaing kala itu, satu nama tampil paling bersinar — AIWA.

Namun siapa yang menyangka, merek yang pernah menjadi simbol gaya hidup dan kebanggaan kelas menengah itu kini sudah lenyap sepenuhnya dari rak-rak toko elektronik di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Nama besar AIWA hari ini hanya bisa ditemukan di lemari-lemari berdebu para kolektor barang antik, atau dalam kenangan hangat mereka yang pernah hidup di masa kejayaannya.

Bagaimana sebuah raksasa industri audio global bisa runtuh begitu sempurna? Jawabannya adalah perpaduan antara keberhasilan yang memabukkan, kelambanan merespons perubahan, dan sebuah keputusan korporasi yang mengubur semuanya selamanya.

Lahir dari Puing Perang

Kisah AIWA bermula jauh sebelum namanya dikenal dunia. Pada 20 Juni 1951, di tengah proses rekonstruksi Jepang pascaperang dunia kedua, sekelompok teknisi mendirikan sebuah perusahaan kecil bernama Ikiko Denki Sangyo. Tokoh sentralnya adalah Mitsuo Ikeiri, seorang insinyur yang melihat peluang di bidang penyiaran dan komunikasi di negeri yang sedang bangkit dari abu.