PUNGGAWATECH, Dalam dunia media sosial, berbagai teori dan strategi untuk meningkatkan visibilitas konten terus berkembang. Salah satu mitos yang telah lama beredar di kalangan content creator Instagram adalah anggapan bahwa menulis caption yang panjang dapat meningkatkan jangkauan organik sebuah postingan.
Kepercayaan ini akhirnya dipatahkan langsung oleh Adam Mosseri selaku Chief Executive Officer Instagram. Melalui sesi Q&A rutin yang digelar via fitur Stories Instagram, Mosseri memberikan klarifikasi definitif mengenai hubungan antara panjang caption dengan algoritma platform.
“Jangan khawatir soal panjang pendek caption. Kalau mau nulis panjang, silakan aja – tapi jangan berharap ini bakal ngaruh banyak ke reach postingan kalian. Ada yang suka pakai caption panjang buat storytelling, dan itu oke banget, cuma bukan keharusan,” ungkap Mosseri, seperti dilansir Social Media Today pada Selasa (26/8/2025).
Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa kreator konten memiliki kebebasan penuh dalam menentukan gaya penulisan caption mereka tanpa perlu memikirkan dampaknya terhadap performa algoritma.
Praktik Caption “Abal-Abal” yang Menyesatkan
Menariknya, meski telah ada klarifikasi resmi dari pihak Instagram, fenomena penggunaan caption super panjang dengan konten yang tidak berkaitan masih marak terjadi. Banyak akun yang sengaja menyisipkan teks bervolume besar berisi pembahasan teknis kendaraan, dokumen random, atau informasi lainnya yang sama sekali tidak relevan dengan visual yang diunggah.
Praktik kontroversial ini ternyata bukan dimotivasi oleh keinginan meningkatkan engagement natural, melainkan sebagai upaya manipulasi sistem deteksi konten Instagram.
Sejak implementasi kebijakan baru di tahun 2023, Instagram secara aktif mengurangi distribusi konten yang dianggap tidak original, khususnya repost dari akun meme dan konten viral lainnya. Para pengguna kemudian menemukan celah dengan menambahkan caption panjang yang kontradiktif dengan sumber aslinya, membuat algoritma menganggap postingan tersebut sebagai konten unik dan terhindar dari sanksi penurunan jangkauan.
Beberapa akun bahkan mengklaim mengalami peningkatan reach hingga 30 persen setelah menerapkan taktik ini, meskipun faktanya mayoritas audiens tidak membaca keseluruhan caption yang disajikan.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana pemahaman yang keliru terhadap cara kerja algoritma media sosial dapat melahirkan praktik-praktik yang menyesatkan dalam ekosistem digital.


Tinggalkan Balasan