CHINA, PUNGGAWATECH – China bergerak lebih cepat dari dugaan banyak pihak. Di saat sebagian besar negara masih bergulat memperluas jaringan 5G, Beijing sudah meletakkan fondasi untuk teknologi komunikasi generasi berikutnya: 6G. Bukan sekadar internet yang lebih cepat, teknologi ini dirancang untuk menghubungkan darat, laut, udara, hingga antariksa dalam satu ekosistem jaringan yang terintegrasi.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, atau MIIT, pada Jumat, 5 Juni 2026, secara resmi meluncurkan program percontohan kolaborasi antara kementerian dan pemerintah provinsi. Program ini bukan sekadar simbol ambisi teknologi. Ia dirancang sebagai landasan konkret untuk mendukung peluncuran komersial 6G di masa depan.
Langkah itu dilaporkan Xinhua dan segera menarik perhatian komunitas teknologi global. China, yang saat ini menguasai infrastruktur 5G terbesar di dunia dengan jutaan stasiun pemancar aktif, kini mengincar posisi yang sama di era 6G.
Program percontohan ini menempatkan sejumlah fokus strategis yang tidak main-main. MIIT menetapkan pengembangan teknologi 6G, integrasi jaringan komunikasi dengan kecerdasan buatan atau AI, internet satelit, serta pengindraan nirkabel sebagai prioritas utama. Selain itu, riset terhadap stasiun pemancar, perangkat jaringan inti, terminal, cip, dan sistem operasi juga akan diperkuat secara bersamaan.
Artinya, yang sedang dibangun China bukan hanya sinyal. Seluruh ekosistemnya disiapkan dari hulu ke hilir.
Wilayah-wilayah percontohan yang dipilih akan menjadi arena uji penggunaan 6G sesuai kebutuhan lokal masing-masing. Lima bidang utama menjadi sasaran uji coba: komunikasi imersif, manufaktur industri, ekonomi ketinggian rendah, kecerdasan berwujud, dan operasi maritim cerdas.
Komunikasi imersif adalah pengalaman komunikasi yang terasa lebih nyata, seperti melalui teknologi virtual reality atau augmented reality. Ini bukan konsep asing, tetapi dengan 6G, ia bisa benar-benar berjalan tanpa hambatan teknis yang selama ini membatasi.
Ekonomi ketinggian rendah merujuk pada ekosistem aktivitas di ketinggian rendah, mencakup drone komersial, kendaraan udara kecil, hingga layanan logistik udara jarak pendek. Sektor ini tumbuh pesat di China dan butuh infrastruktur komunikasi yang andal untuk berkembang optimal.
Kecerdasan berwujud, atau embodied intelligence, mengacu pada AI yang beroperasi melalui perangkat fisik seperti robot. Ini adalah irisan antara kecerdasan buatan dan dunia nyata, dan 6G diproyeksikan menjadi tulang punggung konektivitasnya.
Secara teknis, 6G disebut mampu meningkatkan kinerja antara 10 hingga 100 kali lipat dibandingkan 5G, baik dari sisi kecepatan transmisi, latensi, maupun keandalan jaringan. Latensi, yang merupakan jeda waktu pengiriman data, menjadi faktor krusial. Makin kecil latensi, makin cepat respons perangkat terhadap perintah, sebuah kebutuhan mutlak untuk kendaraan otonom, robot industri, dan layanan kesehatan jarak jauh.
Cakupan geografis 6G pun jauh lebih ambisius. Tidak seperti jaringan sebelumnya yang berfokus pada daratan, 6G dirancang menjangkau wilayah udara, maritim, dan bahkan antariksa. Inilah yang menjadikan teknologi ini lebih dari sekadar evolusi teknis: ia adalah lompatan konseptual dalam cara manusia mendefinisikan konektivitas.
MIIT telah memulai langkah konkret sebelum program percontohan ini. Pada awal Mei lalu, kementerian tersebut menyetujui penggunaan spektrum uji coba pada pita frekuensi 6 GHz untuk keperluan pengembangan 6G. Persetujuan itu diberikan kepada IMT-2030 (6G) Promotion Group, kelompok yang dibentuk MIIT sejak Juni 2019 sebagai wadah kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset China.
Kelompok itu kini berwenang menjalankan uji coba 6G di sejumlah wilayah terpilih. Uji coba diarahkan mengikuti skenario utama dan indikator kinerja yang ditetapkan oleh International Telecommunication Union, badan telekomunikasi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.
MIIT menegaskan bahwa mereka akan terus memantau perkembangan uji coba dan siap menyesuaikan rencana bila diperlukan. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa China tidak sedang bermain-main dengan jadwal, sekaligus menyadari betapa kompleksnya tantangan teknis yang harus diatasi sebelum 6G benar-benar siap dikomersialkan.
Bagi industri global, langkah China ini adalah sinyal yang tidak bisa diabaikan. Negara-negara yang terlambat berinvestasi dalam infrastruktur 6G berisiko kehilangan posisi strategis dalam ekonomi digital dekade mendatang. Manufaktur, transportasi, pelabuhan, layanan publik, hingga pertahanan semuanya akan bergantung pada kematangan teknologi ini.
China sudah memulai. Dan seperti yang terjadi pada 5G, mereka tidak terlihat berniat menunggu.
FAQ
Apa perbedaan utama antara 6G dan 5G? 6G diproyeksikan 10 hingga 100 kali lebih cepat dari 5G dalam hal kecepatan transmisi data, latensi, dan keandalan. Selain itu, 6G dirancang mencakup wilayah udara, maritim, dan antariksa, bukan hanya daratan seperti jaringan generasi sebelumnya.
Apa itu IMT-2030 (6G) Promotion Group dan apa perannya? IMT-2030 (6G) Promotion Group adalah kelompok yang dibentuk MIIT pada Juni 2019 sebagai platform kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset China. Kelompok ini bertugas mengembangkan teknologi 6G dan menjalankan uji coba di wilayah terpilih berdasarkan standar International Telecommunication Union.
Kapan 6G diperkirakan siap diluncurkan secara komersial? China belum menetapkan tanggal pasti peluncuran komersial 6G. Program percontohan yang baru diluncurkan MIIT pada Juni 2026 ini merupakan tahap awal untuk menguji dan memvalidasi teknologi sebelum kesiapan komersial penuh ditentukan.


Tinggalkan Balasan