PUNGGAWATECH, Lanskap keamanan siber global mengalami transformasi fundamental dengan masuknya era pertempuran kecerdasan buatan (AI) melawan AI, menggantikan konflik tradisional antara manusia dengan manusia.

Revolusi AI dalam Deteksi Ancaman

Teknologi kecerdasan buatan kini menjadi tulang punggung sistem keamanan siber modern, khususnya dalam analisis perilaku pengguna untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan. Defri Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, menjelaskan pentingnya AI dalam mengenali pola-pola tidak biasa.

“Artificial Intelligence sangat diperlukan untuk identifikasi pola behavior. Contohnya, ketika seorang karyawan yang normalnya hanya mengakses sistem di jam kerja tiba-tiba melakukan login di tengah malam, sistem AI dapat langsung mendeteksi anomali tersebut,” ungkap Defri dalam Media Meeting With Director of GReAT Kaspersky di Jakarta, Selasa (19/8).

Senjata Bermata Dua: AI untuk Penyerang dan Pembela

Perkembangan AI tidak hanya menguntungkan pihak keamanan. Para cybercriminal juga memanfaatkan teknologi serupa untuk mempercanggih metode serangan mereka, menciptakan kompetisi teknologi yang semakin ketat.

“Evolusi ini mengubah paradigma dari manusia versus manusia menjadi mesin versus mesin. Ketika mesin berhadapan dengan manusia, jelas manusia akan kalah. Karena itu, pertarungan sekarang adalah AI melawan AI,” tegas Defri.

Faktor Investasi Menentukan Kekuatan

Dalam era AI versus AI ini, kekuatan ditentukan oleh besarnya investasi dan sumber daya yang dialokasikan untuk pengembangan teknologi. Ironisnya, para pelaku kejahatan siber seringkali lebih agresif dalam berinvestasi dibandingkan pihak pembela.

Defri mengungkapkan bahwa motivasi finansial mendorong cybercriminal untuk mengalokasikan dana besar demi teknologi AI canggih. “Para bad actors memiliki insentif kuat dan berani berinvestasi besar karena mereka melihat potensi keuntungan yang menggiurkan. Bahkan kemungkinan mereka didukung oleh investor khusus,” jelasnya.

Urgensi Penguatan Pertahanan

Dinamika ini memaksa organisasi pemerintah dan swasta untuk segera meningkatkan investasi dalam sistem pertahanan siber berbasis AI. Keterlambatan dalam adopsi teknologi pertahanan dapat berakibat fatal mengingat sophistication serangan yang terus meningkat.

Para ahli keamanan siber menekankan bahwa era ini menuntut pendekatan proaktif dalam pengembangan teknologi pertahanan, bukan lagi reaktif terhadap ancaman yang muncul.


Perkembangan ini menandai fase baru dalam evolusi keamanan siber, di mana teknologi AI menjadi faktor penentu dalam pertarungan antara penyerang dan pembela di dunia digital.