Dari keterpurukan memalukan hingga lonjakan saham 82%, bagaimana raksasa teknologi ini bangkit dan menggeser momentum persaingan AI

PUNGGAWATECH, Gemini, chatbot AI versi terbaru milik Google, kini menjadi sorotan dan menuai pujian di mana-mana. Padahal belum lama ini, Google sempat dinilai gagal total dalam pertarungan melawan OpenAI.

Peluncuran tergesa-gesa Bard sebagai respons terhadap ChatGPT mengakibatkan saham Google anjlok, reputasi retak, bahkan muncul desakan agar CEO Sundar Pichai mundur dari jabatannya. Namun kini, situasinya berbalik 180 derajat.

Dari Juara Tersembunyi Menjadi Pecundang Publik

Sebelum ChatGPT mengubah dunia, Google sebenarnya sudah berada jauh di depan. Google Brain dan DeepMind adalah pelopor dalam pengembangan AI modern, melahirkan terobosan yang menjadi dasar teknologi AI saat ini.

Namun justru karena terlalu berhati-hati menjaga bisnis inti mereka—terutama iklan pencarian—Google menahan diri untuk tidak merilis AI generatif secara luas ke publik.

Segalanya berubah pada November 2022. ChatGPT meledak dan memicu perubahan besar dalam cara orang mencari informasi. Google panik. Status darurat diumumkan secara internal, dan mereka tergesa-gesa merilis Bard untuk mengejar momentum.