Peluncuran Gemini 2.0: Momentum Pembalikan

Peluncuran Gemini 2.0 pada November lalu memukau banyak pihak. Kemampuan coding, desain, hingga analisisnya dinilai lebih unggul dari para pesaing. Saham Alphabet pun melonjak, bahkan melampaui kenaikan Nvidia dalam setahun terakhir.

Kebangkitan ini juga diperkuat oleh investasi besar-besaran di bidang infrastruktur. Google mengembangkan TPU (Tensor Processing Unit) terbaru untuk mendukung Gemini, memperkuat Google Cloud, dan menambah kapasitas penyimpanan serta komputasi dalam skala masif.

Hasilnya mulai terlihat selama setahun terakhir. Saham Alphabet melejit hampir 82%, memisahkan diri dari kompetisi Magnificent 7 dan bahkan melampaui lonjakan Nvidia yang sekitar 27%. Banyak analis mulai melihat Google sebagai raksasa tidur yang akhirnya bangun dan berlari kencang di arena AI.

Late Mover Advantage: Pelajaran dari Keterpurukan

Kebangkitan Google dapat dipahami melalui perspektif “late mover advantage”. Meski terlihat seperti pecundang di awal, posisi sebagai pemain yang tertinggal justru memberi Google kesempatan untuk mengamati dinamika pasar, mempelajari apa yang berhasil dan gagal dari para pesaing.

Peluncuran Bard yang terburu-buru memberi Google pelajaran paling mahal: AI generatif tidak bisa dikembangkan dengan pola pengambilan keputusan lama. Mereka membutuhkan organisasi yang lebih gesit dan lebih fokus.

Google juga memanfaatkan kekuatan mereka yang sejak lama menjadi keunggulan tak tertandingi: infrastruktur global. Dengan pusat data raksasa dan chip TPU yang dikembangkan sendiri, Google memiliki kontrol penuh terhadap kemampuan komputasi mereka.

Integrasi antara teknologi, infrastruktur, dan produk inilah yang membuat langkah Google terasa sangat cepat setelah masa keterpurukan.