1. Intentional Innovation: Inovasi Harus Dirancang dengan Sengaja

Inovasi tidak boleh lagi sporadis—ia harus intensional, diniatkan dengan sungguh-sungguh dan dipilih dengan sadar. Banyak perusahaan global menyadari bahwa mengandalkan momen kreatif sesekali tidak cukup untuk menghadapi tekanan pasar dan perubahan teknologi.

Mereka mulai membangun kapasitas inovasi secara sistematis, lengkap dengan prioritas yang jelas, penyelarasan strategi, dan mekanisme yang memastikan ide tidak berhenti di papan presentasi.

Riset Kellogg Foundation tentang intentional innovation lahir dari kegelisahan bahwa inovasi sering diperlakukan sebagai kejadian acak—bergantung pada individu berbakat atau kondisi darurat. Mereka menemukan bahwa inovasi berdampak lahir dari struktur dan proses yang bisa diulang, serta budaya yang memberi ruang untuk belajar dari kegagalan.

Ketika inovasi dirancang dengan sengaja, perusahaan bisa berinovasi secara stabil, bukan hanya ketika ada tekanan atau inspirasi sesaat.

Implementasi di Indonesia

Di Indonesia, arah ini mulai terlihat. Banyak perusahaan tidak lagi menunggu tekanan sebelum berinovasi. Inovasi mulai didorong dari tingkat eksekutif, diterjemahkan menjadi arah yang jelas, lalu dijalankan secara konsisten oleh organisasi.

Eksperimen menjadi bagian dari ritme kerja, bukan kegiatan dadakan. Kolaborasi lintas divisi diperkuat, dan sistem untuk menumbuhkan ide hingga implementasi dibangun secara serius. Inovasi menjadi kemampuan organisasi, bukan keberuntungan.