Bayang-Bayang Pemimpin Lama
Tantangan terbesar justru datang dari pemimpin senior yang masih sulit melepaskan kendali. Banyak dari mereka yang secara formal sudah memindahkan jabatan, tapi secara informal masih memegang pengaruh besar dalam pengambilan keputusan. Mereka masih menjadi pusat gravitasi yang menentukan arah perusahaan.
Ketika pemimpin baru ingin melakukan pembaruan, mereka harus berhadapan dengan tembok yang tak terlihat ini. Hasilnya, regenerasi berisiko hanya menjadi kosmetik—berganti wajah, tapi tak bergantibol.
Tanpa perubahan yang lebih dalam di level budaya organisasi dan sistem manajemen, regenerasi seperti ini justru bisa memperlambat proses adaptasi. Perusahaan tampak seolah-olah berubah, padahal cara kerja di dalamnya masih sama.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, ilusi perubahan seperti ini sangat berbahaya karena membuat perusahaan merasa sudah melakukan sesuatu, padahal faktanya belum menyentuh akar masalahnya.
Formula Regenerasi yang Efektif
Lalu, bagaimana supaya regenerasi benar-benar bekerja?
1. Peran Pemimpin Senior Harus Berubah
Pemimpin senior tidak lagi berada di garis depan sebagai pengambil keputusan utama, tetapi menjadi mentor, penjaga nilai, dan penopang bagi pemimpin muda. Pengalaman mereka tetap sangat penting, tapi perannya bergeser: bukan mengendalikan, tapi membimbing.
Mereka perlu memberi ruang dan kepercayaan kepada generasi baru untuk menguji ide, mengambil keputusan, dan bahkan membuat kesalahan yang wajar dalam proses belajar.


Tinggalkan Balasan