PUNGGAWATECH, AS – Lebih dari 200 ahli perkembangan anak, kelompok advokasi, dan institusi pendidikan bersatu mengirimkan surat resmi kepada CEO Google Sundar Pichai dan CEO YouTube Neal Mohan, menuntut pembatasan tegas terhadap konten video berbasis kecerdasan buatan yang selama ini bebas ditayangkan dan direkomendasikan kepada penonton anak-anak melalui platform YouTube maupun YouTube Kids.
Surat yang dikirimkan pada Rabu waktu setempat itu mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap merebaknya video yang diproduksi secara massal menggunakan generator AI bermutu rendah, yang kerap mengklaim dirinya sebagai konten edukatif padahal minim substansi. Para pengirim surat menilai fenomena ini semakin mengkhawatirkan seiring banyaknya kreator yang memanfaatkan teknologi AI semata demi meraup keuntungan dari segmen penonton paling rentan, yakni balita dan anak-anak usia dini.
Kalangan aktivis dan pemerhati tumbuh kembang anak menyebut konten semacam ini dengan istilah “AI slop”, yakni materi digital berkualitas rendah yang dihasilkan secara otomatis oleh sistem kecerdasan buatan. Mereka meyakini konten tersebut berpotensi mengganggu daya konsentrasi anak serta mengaburkan kemampuan mereka dalam membedakan antara realita dan konten rekayasa. Lebih jauh, para pakar mengingatkan bahwa waktu yang terserap di depan layar untuk mengonsumsi konten semacam itu secara langsung menggantikan aktivitas dunia nyata yang sesungguhnya krusial bagi pembentukan kecerdasan emosional dan kemampuan sosial anak.
“Masih banyak yang belum kita ketahui mengenai dampak konten AI terhadap anak-anak. YouTube turut ambil bagian dalam eksperimen tak terkendali ini dengan mempromosikan konten buatan AI tanpa dukungan riset yang membuktikan manfaatnya, dan tanpa mempertimbangkan prinsip-prinsip perkembangan anak yang justru mengindikasikan potensi kerugiannya,” demikian bunyi pernyataan dalam surat tersebut.


Tinggalkan Balasan