BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Surat itu turut ditandatangani oleh psikolog sosial terkemuka Jonathan Haidt, penulis buku “The Anxious Generation” yang telah memicu gerakan global menentang dampak negatif media sosial dan gawai pintar terhadap generasi muda. Sejumlah organisasi terkemuka ikut membubuhkan tanda tangan, di antaranya Fairplay, National Alliance to Advance Adolescent Health, Federasi Guru Amerika, hingga beberapa lembaga sekolah.

Merespons desakan tersebut, juru bicara YouTube Boot Bullwinkle menegaskan bahwa pihaknya menerapkan standar ketat di platform YouTube Kids, termasuk pembatasan konten buatan AI yang hanya diizinkan pada sejumlah kecil saluran berkualitas tinggi. Ia juga menyebutkan bahwa orang tua diberikan opsi untuk memblokir saluran tertentu secara mandiri. “Di seluruh ekosistem YouTube, kami mengutamakan transparansi terkait konten AI, memberikan label pada konten dari alat AI kami sendiri, dan mewajibkan kreator untuk mengungkapkan konten AI yang bersifat realistis. Pendekatan kami akan terus berkembang seiring dinamika ekosistem yang ada,” ujarnya.

Namun para pendukung dalam surat tersebut menyanggah efektivitas langkah pelabelan itu, dengan mengingatkan bahwa label semacam itu “kemungkinan besar tidak akan dipahami oleh anak-anak yang belum bisa membaca, yang justru menjadi sasaran utama dari banyak konten AI berkualitas rendah ini.”

Di sisi lain, YouTube sendiri tidak sepenuhnya menutup diri terhadap penggunaan AI dalam produksi konten anak. Pada Maret lalu, Google mengumumkan investasinya di Animaj, sebuah studio animasi berbasis AI yang difokuskan untuk memproduksi konten YouTube bagi anak-anak, sebagai bagian dari upaya perusahaan meningkatkan kualitas tayangan bagi pengguna muda.