CEO YouTube Neal Mohan sebelumnya pada Januari menyatakan bahwa mengelola konten AI berkualitas rendah sekaligus menjaga YouTube sebagai ruang yang nyaman bagi penggunanya menjadi prioritas utama perusahaan sepanjang 2026. Meski demikian, YouTube tetap berpendirian bahwa tidak semua konten berbasis AI identik dengan konten murahan, dan bahwa jika digarap dengan benar, produksi konten berteknologi AI justru dapat memberi dampak positif.
Surat tersebut hadir di tengah tekanan eksternal yang kian menguat terhadap cara operasional YouTube. Pada Maret lalu, sebuah sidang juri bersejarah dalam gugatan kecanduan media sosial memutuskan bahwa Google dan Meta Platforms Inc. bertanggung jawab atas kerugian yang dialami seorang pengguna muda akibat produk-produk yang dirancang untuk membuat penggunanya terus terpaku pada layar. Meskipun kedua perusahaan menyatakan akan mengajukan banding, para penggugat, pembela konsumen, dan kalangan legislatif kini semakin gencar mendesak keduanya untuk mengubah sejumlah fitur operasional paling menguntungkan mereka, termasuk algoritma rekomendasi konten yang selama ini menjadi mesin utama pendapatan mereka.


Tinggalkan Balasan