CHINA, PUNGGAWATECH – Yao Xinnong, sopir taksi berusia 45 tahun di Wuhan, sempat menyaksikan pendapatannya ambruk hampir 40 persen hanya dalam beberapa tahun. Bukan karena ia malas bekerja, melainkan karena armada robotaxi tanpa pengemudi mulai memenuhi jalanan kotanya. Kisah Yao hanyalah satu dari jutaan cerita serupa yang kini menghantui para pekerja di China—negara yang tengah berpacu habis-habisan dalam perlombaan kecerdasan buatan global.
Kecemasan itu bukan sekadar bisik-bisik di warung kopi. Ia telah menjadi kegelisahan struktural yang merayap dari jalanan Wuhan hingga studio film di Beijing, menyentuh hampir semua lapisan tenaga kerja yang selama ini mengandalkan keahlian tangan dan otak manusia.
Sejak 2022, Apollo Go—layanan robotaxi milik Baidu—beroperasi di Wuhan dan langsung mengubah peta persaingan transportasi kota itu. Ratusan taksi otonom meluncur tanpa sopir, menawarkan tarif yang sulit ditandingi pengemudi manusia. Yao merasakan langsung dampaknya: penghasilan harian yang dulu cukup untuk menghidupi keluarga kini menyusut drastis.
“Saya sejujurnya tidak menyukai mereka,” ujar Yao kepada The Guardian. “Dampaknya sangat besar.”
Keadaan sempat berbalik sementara. Pada Maret lalu, beberapa unit Apollo Go mengalami gangguan sistem dan berhenti mendadak di tengah jalan, membuat penumpang terjebak berjam-jam. Armada itu ditarik dari jalanan untuk penyelidikan selama beberapa bulan. Pendapatan Yao naik lagi ketika penumpang kembali memilih taksi konvensional—sebuah ironi pahit bahwa mata pencahariannya bergantung pada kegagalan teknologi yang menyingkirkannya.


Tinggalkan Balasan