BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

“Saya menghabiskan enam tahun yang melelahkan untuk naik menjadi sinematografer, hanya untuk digantikan oleh sebuah perangkat lunak,” tulisnya di media sosial.

Yang membuat Tian tertegun bukan sekadar kehilangan pekerjaan, melainkan kecepatan perubahan itu sendiri. Menurutnya, tahun lalu AI masih menghasilkan avatar yang terlihat kaku dan tidak alami. Kini, teknologi yang sama sudah mampu menciptakan klona digital yang meyakinkan untuk film panjang.

“Kami hampir tidak punya waktu untuk bereaksi,” kata Tian.

Di tengah gejolak ini, pemerintah China mulai mengirimkan sinyal yang berbeda. Workers’ Daily, media resmi negara, menulis editorial yang menyebut hak ketenagakerjaan “menghadapi tantangan baru” di era AI, sekaligus memperingatkan adanya benturan antara aturan kerja konvensional dan laju perkembangan teknologi. Beijing pun berjanji akan menangani dampak AI terhadap lapangan kerja.

Selina Xu, analis teknologi China, menyebut ada “pergeseran suasana besar” dari ibu kota. Setelah kesuksesan model AI lokal DeepSeek tahun lalu, China memang sangat ambisius mendorong pengembangan AI. Namun kini, pedoman kebijakan yang terbit tahun ini mulai menekankan pendekatan yang mengutamakan manusia dan mendorong AI untuk menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar menghapusnya.



Follow Widget