Wilayah-wilayah percontohan yang dipilih akan menjadi arena uji penggunaan 6G sesuai kebutuhan lokal masing-masing. Lima bidang utama menjadi sasaran uji coba: komunikasi imersif, manufaktur industri, ekonomi ketinggian rendah, kecerdasan berwujud, dan operasi maritim cerdas.
Komunikasi imersif adalah pengalaman komunikasi yang terasa lebih nyata, seperti melalui teknologi virtual reality atau augmented reality. Ini bukan konsep asing, tetapi dengan 6G, ia bisa benar-benar berjalan tanpa hambatan teknis yang selama ini membatasi.
Ekonomi ketinggian rendah merujuk pada ekosistem aktivitas di ketinggian rendah, mencakup drone komersial, kendaraan udara kecil, hingga layanan logistik udara jarak pendek. Sektor ini tumbuh pesat di China dan butuh infrastruktur komunikasi yang andal untuk berkembang optimal.
Kecerdasan berwujud, atau embodied intelligence, mengacu pada AI yang beroperasi melalui perangkat fisik seperti robot. Ini adalah irisan antara kecerdasan buatan dan dunia nyata, dan 6G diproyeksikan menjadi tulang punggung konektivitasnya.
Secara teknis, 6G disebut mampu meningkatkan kinerja antara 10 hingga 100 kali lipat dibandingkan 5G, baik dari sisi kecepatan transmisi, latensi, maupun keandalan jaringan. Latensi, yang merupakan jeda waktu pengiriman data, menjadi faktor krusial. Makin kecil latensi, makin cepat respons perangkat terhadap perintah, sebuah kebutuhan mutlak untuk kendaraan otonom, robot industri, dan layanan kesehatan jarak jauh.


Tinggalkan Balasan