Robot ini juga dirancang untuk tetap berfungsi dalam kondisi suhu ekstrem dan ketinggian hingga 5.000 meter. Dalam operasionalnya, perangkat dapat bekerja secara mandiri maupun berkoordinasi dalam tim dengan pertukaran data secara real-time.
Untuk kebutuhan tempur, robot dapat dipasangi berbagai sistem persenjataan, seperti senapan otomatis, rudal mikro, hingga peluncur granat. Meski demikian, kendali akhir tetap berada di tangan manusia. Setelah target teridentifikasi, robot akan mengirimkan data kepada operator dan menunggu persetujuan sebelum melakukan serangan.
Penggunaan platform darat nirawak sendiri bukan hal baru bagi militer China. Dalam parade militer di Beijing tahun lalu, Tentara Pembebasan Rakyat telah memamerkan generasi terbaru robot berkaki empat yang kini disebut telah diuji dalam latihan tempur perkotaan.
Riset pengembangan robot ini dimulai sejak 2020, dengan prototipe pertama diperkenalkan pada pameran persenjataan domestik akhir 2022. Pengamat industri pertahanan, Wu Peixin, menilai teknologi ini memiliki keunggulan signifikan dalam perang modern, khususnya di wilayah urban.
Menurutnya, robot tempur dapat menggantikan peran prajurit dalam misi berisiko tinggi seperti pengintaian jarak dekat, sehingga berpotensi mengurangi korban jiwa. Jika dikombinasikan dengan drone, sistem ini bahkan dapat membentuk jaringan pengintaian dan serangan tiga dimensi yang lebih efektif.


Tinggalkan Balasan