MAKASSAR, PUNGGAWATECH – Dunia robot humanoid sedang berdiri di ambang babak baru. Para ahli memperkirakan teknologi ini akan mencapai titik ledak popularitasnya—semacam “momen ChatGPT”—pada akhir 2028, saat robot tak lagi sekadar pajangan laboratorium, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan nyata dengan fungsi yang langsung terasa manfaatnya.
Proyeksi itu bukan sekadar spekulasi. Wang He, pendiri sekaligus Direktur Teknologi Galbot Co Ltd, menyampaikan perkiraan tersebut berdasarkan dua faktor konkret: laju pengumpulan data yang semakin masif dan kecenderungan konvergensi model, yakni kemampuan untuk menyatukan berbagai fungsi kecerdasan buatan dalam satu sistem terpadu.
“Momen ChatGPT” sendiri adalah analogi untuk menggambarkan saat sebuah teknologi meledak ke permukaan—dari yang semula hanya dikenal segelintir orang menjadi sesuatu yang tiba-tiba dipahami dan digunakan jutaan orang. Bagi robot humanoid, itu berarti transisi dari pameran teknologi menuju kehadiran nyata di dapur, gudang, atau ruang kerja.
Kunci dari lompatan itu, menurut Wang, terletak pada model pralatih yang kuat dan efisiensi pelatihan lanjutan. Model dasar kecerdasan buatan berwujud yang dilatih dengan data besar dan lengkap berpotensi mencapai tingkat keberhasilan 70 hingga 80 persen saat mengerjakan tugas yang belum pernah secara khusus dilatih sebelumnya. Angka itu terbilang signifikan dalam dunia robotik yang selama ini masih sangat bergantung pada pemrograman tugas per tugas.
Kecerdasan buatan berwujud sendiri adalah AI yang tidak bekerja di balik layar komputer, melainkan melalui perangkat fisik seperti robot—yang mampu mengenali lingkungan sekitarnya dan mengambil tindakan secara mandiri.
Kemampuan itu dipamerkan langsung dalam World Artificial Intelligence Conference 2026 di Shanghai. Galbot G1, robot humanoid buatan perusahaan Wang, tampil menyiapkan sarapan: memanggang roti, menuangkan minuman, dan menata meja. Bukan sekadar demonstrasi terpogram.
Para penonton kemudian menguji batas kemampuan robot itu. Mereka memindahkan roti, menggeser ketel, mengubah posisi cangkir dan piring, bahkan menutup cangkir dengan tangan. Galbot G1 tidak berhenti atau kebingungan. Dalam hitungan milidetik, robot mendeteksi ulang posisi setiap benda, menyusun ulang jalur geraknya, dan melanjutkan tugas tanpa jeda.
Wang menjelaskan bahwa kemampuan itu terwujud karena robot dilengkapi sistem terpadu yang bekerja seperti “otak besar dan otak kecil” secara bersamaan—model yang mampu memahami instruksi sekaligus mengendalikan gerakan fisik secara presisi. Pendekatan ini, menurutnya, menjadi salah satu jalur untuk mendorong robot humanoid menuju titik balik kecerdasan umum buatan, atau AGI—AI yang bisa memahami dan mengerjakan berbagai jenis tugas, bukan hanya satu fungsi spesifik.
Sementara itu, angka produksi robot humanoid di China melonjak drastis. Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Ke Jixin, mengungkapkan bahwa produksi tahun lalu mencapai sekitar 20.000 unit. Angka itu sudah terlampaui hanya dalam semester pertama tahun ini, dengan lebih dari 40.000 unit yang telah diproduksi—dan diperkirakan menembus 100.000 unit hingga akhir tahun.
Jika proyeksi itu terpenuhi, produksi tahun ini menjadi lima kali lipat dibanding tahun lalu. Lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri ini.
Namun Ke mengingatkan bahwa lonjakan angka produksi tidak otomatis berarti industrinya sudah matang. Ada jarak besar antara memperbanyak unit dan membangun ekosistem yang benar-benar siap pakai secara massal.
Xie Shaofeng, Ketua Komite Teknis Standardisasi Robot Humanoid dan Kecerdasan Berwujud sekaligus Ketua OpenAtom Foundation, menyebut tiga tantangan utama yang tengah menghadang. Pertama, jalur teknologi antarperusahaan terlalu berbeda satu sama lain. Kedua, standar produk masih sangat minim. Ketiga, tuntutan pembangunan berkelanjutan semakin besar dan tidak bisa diabaikan.
Ke memperkirakan dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi masa penentu. Industri mulai bergerak dari fase purwarupa dan pertunjukan teknologi menuju pengiriman produk dalam jumlah besar kepada pengguna nyata.
Namun ketika skala produksi membesar hingga puluhan ribu unit, persoalan baru ikut bermunculan. Ketidakcocokan antarkomponen dari produsen berbeda, perbedaan metode pengujian, dan ketidakjelasan batas keselamatan bisa membengkak menjadi masalah biaya, inefisiensi, dan—yang paling krusial—hilangnya kepercayaan pasar.
Karena itu, peningkatan skala bukan semata soal memperbanyak produksi. Komponen dari berbagai perusahaan harus bisa saling bekerja sama, dan kinerja robot perlu bisa dibandingkan secara objektif. Tanpa standar yang jelas, pembeli tidak punya acuan, dan pasar tidak bisa berkembang sehat.
Standar juga menjadi syarat agar konsumen merasa cukup yakin untuk membeli, serta memiliki panduan perawatan setelah penjualan. Ke pun meminta agar proses penyusunan standar—mulai dari klasifikasi tingkat kecerdasan robot, pengelolaan data, hingga keselamatan—segera dipercepat.
Wakil Ketua Komite Teknis, Jiang Lei, menambahkan bahwa perangkat keras robot memerlukan standar yang terukur, sementara model AI membutuhkan apa yang ia sebut sebagai “tembok pengaman”. Kelompok standar pertama ditargetkan dapat diterbitkan sebelum akhir tahun ini.
Semua ini menggambarkan industri yang sedang berlari kencang, namun sadar bahwa kecepatan tanpa arah bisa berbahaya. Robot humanoid mungkin sedang mendekati momen popularitasnya—tapi jalan menuju sana masih membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi.
FAQ
Apa yang dimaksud dengan “momen ChatGPT” dalam konteks robot humanoid?
Istilah ini menggambarkan titik saat teknologi robot humanoid yang sebelumnya hanya dikenal kalangan terbatas tiba-tiba menjadi mudah dipahami dan manfaatnya langsung dirasakan masyarakat luas, mirip dengan ledakan popularitas ChatGPT di dunia AI.
Mengapa standar produk menjadi tantangan penting bagi industri robot humanoid China?
Ketika produksi mencapai puluhan ribu unit, ketidakcocokan komponen antarprodusn, perbedaan metode pengujian, dan ketidakjelasan batas keselamatan bisa menghambat kepercayaan pasar dan efisiensi industri secara keseluruhan.
Seberapa besar lonjakan produksi robot humanoid di China pada 2025?
Produksi robot humanoid China diperkirakan menembus 100.000 unit sepanjang tahun ini, naik lima kali lipat dibandingkan sekitar 20.000 unit yang diproduksi pada tahun sebelumnya.


Tinggalkan Balasan