PUNGGAWATECH, TOKYO — Pemerintah Jepang tengah bergerak serius mewujudkan layanan taksi terbang komersial yang dapat mengangkut penumpang berbayar. Ambisi itu ditargetkan mulai terealisasi paling cepat pada 2027 atau 2028, menjadikan Jepang salah satu negara pertama di dunia yang membuka jalur penerbangan perkotaan berbasis kendaraan listrik lepas landas vertikal secara resmi.
Informasi tersebut mencuat dari laporan The Straits Times yang mengutip sejumlah sumber pemerintah Jepang, sebagaimana dikutip pada Rabu, 1 April. Disebutkan bahwa tahap awal operasional akan dimulai dalam bentuk penerbangan wisata di kawasan metropolitan, sebelum secara bertahap berkembang menjadi moda transportasi fungsional antarkota.
Tokyo dan Osaka, khususnya kawasan tepi laut keduanya, disebut sebagai kandidat kuat lokasi perdana beroperasinya armada taksi udara ini. Dari titik awal tersebut, layanan kemudian direncanakan merambah ke rute-rute jarak pendek yang menghubungkan berbagai titik strategis, termasuk koridor penghubung antara kota dan bandara.
Sebagai kendaraan bertenaga listrik yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal, taksi terbang menawarkan sejumlah keunggulan praktis. Kapasitasnya yang ringkas, tingkat kebisingan yang relatif rendah, serta ketidakbutuhan akan landasan pacu konvensional membuatnya dinilai cocok beroperasi di tengah kepadatan infrastruktur perkotaan. Lebih dari itu, teknologi ini juga dilirik sebagai solusi mobilitas alternatif bagi wilayah yang selama ini minim akses transportasi.
Di sisi regulasi, permohonan sertifikasi tipe berdasarkan Undang-Undang Penerbangan Sipil telah resmi diajukan kepada Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata. Sertifikasi ini menjadi kunci karena mencakup pengujian standar keselamatan, syarat teknis, sekaligus membuka jalan bagi produksi massal armada.
Dalam rentang dua hingga tiga tahun setelah layanan perdana berjalan, jangkauan operasional taksi terbang diproyeksikan semakin meluas. Rute-rute yang lebih bersifat utilitas akan dibuka, termasuk koneksi langsung dari bandar udara besar seperti Narita dan Kansai menuju kota-kota di sekitarnya.
Geliat kompetisi di sektor ini pun mulai terasa nyata. Pada ajang Expo Osaka-Kansai 2025, penerbangan demonstrasi tanpa penumpang telah digelar sebagai bagian dari uji coba publik. Sementara di Tokyo, otoritas metropolitan telah memilih dua konsorsium untuk menjalankan proyek penerapan taksi terbang. Konsorsium pertama terdiri dari sembilan perusahaan dengan Japan Airlines sebagai salah satu anggotanya, sedangkan konsorsium kedua menggabungkan tujuh perusahaan termasuk Nomura Real Estate Development.
Memasuki tahun fiskal baru, penerbangan demonstrasi skala penuh menggunakan pesawat sesungguhnya dijadwalkan digelar di kawasan tepi laut Tokyo serta beberapa wilayah lainnya, menandai babak lebih serius dari uji coba yang selama ini berlangsung.
Meski regulasi internasional untuk kendaraan udara jenis ini belum terbentuk secara menyeluruh, Jepang tidak menunggu. Negeri Sakura itu telah lebih dulu merancang standar keselamatannya sendiri, mulai dari persyaratan performa baterai hingga kewajiban membawa jaket pelampung untuk penerbangan di atas perairan. Langkah antisipatif ini menempatkan Jepang pada posisi strategis untuk turut memimpin pembentukan kerangka regulasi operasional komersial taksi terbang di tingkat global.
Komitmen ini juga tercermin dari kebijakan industri yang lebih luas. Pada 2025, pemerintahan Perdana Menteri Takaichi secara resmi memasukkan sektor penerbangan dan antariksa ke dalam daftar 17 sektor strategis prioritas nasional, menegaskan bahwa langit bukan lagi batas, melainkan arena persaingan baru yang sedang diperebutkan.


Tinggalkan Balasan