BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

CHINA, PUNGGAWATECH – Para ilmuwan China berhasil memecahkan salah satu teka-teki terbesar dalam dunia pertanian—bagaimana membuat benih padi hibrida unggul bisa ditanam ulang tanpa kehilangan keistimewaannya. Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Vita ini bisa mengubah cara jutaan petani di seluruh dunia memperoleh benih setiap musim tanam.

Selama puluhan tahun, petani yang menanam padi hibrida menghadapi dilema yang sama: benih hasil panennya tidak bisa digunakan kembali. Sifat-sifat unggul yang membuat padi hibrida begitu diminati—produksi tinggi, ketahanan terhadap kondisi buruk—hilang begitu saja pada generasi berikutnya.

Ini bukan sekadar kerugian teknis. Ini soal uang. Harga benih padi hibrida bisa sepuluh kali lebih mahal dibanding benih biasa, karena perusahaan benih harus memproduksi ulang setiap tahun melalui proses yang rumit dan padat tenaga kerja.

Tim peneliti dari China National Rice Research Institute yang dipimpin Wang Kejian mulai mencari jalan keluar sejak 2013. Mereka menamakan pendekatan mereka “metode satu galur”—sebuah gagasan sederhana namun ambisius: padi hibrida cukup dikembangkan sekali, lalu keturunannya bisa ditanam kembali dari generasi ke generasi tanpa kehilangan sifat unggulnya.

Pada 2017, langkah pertama berhasil dilakukan. Tim Wang menghasilkan benih padi hibrida kloning pertama di dunia. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan—hanya sekitar 5 persen benih yang berhasil menjadi salinan genetik tanaman induk, dan produksi gabah turun drastis.



Follow Widget