BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Namun masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar gangguan teknis. China sedang menerapkan AI dalam skala masif di tengah pasar tenaga kerja yang sedang tidak dalam kondisi prima. Pengangguran tinggi, sektor real estat dan pendidikan melemah, serta jutaan pekerja yang terpaksa beralih ke ekonomi gig—pola kerja berbasis proyek atau aplikasi seperti ojek online dan pekerjaan lepas.

Angkanya mencengangkan. Sebuah lembaga kajian memperkirakan jumlah pekerja fleksibel di China akan mencapai 320 juta orang tahun ini, dua kali lipat dibandingkan 160 juta orang pada 2019. Itu setara dengan sekitar 44 persen dari seluruh angkatan kerja China. Mereka yang lari ke sektor transportasi online untuk bertahan hidup kini menghadapi ancaman baru: robot yang tidak perlu istirahat, tidak menuntut upah minimum, dan tidak mogok kerja.

Ketegangan tidak hanya tersimpan dalam hati. Pada 2024, para sopir taksi di Wuhan turun ke jalan memprotes peluncuran Apollo Go. Aksi itu dengan cepat disensor, dan jumlah pesertanya pun tidak pernah tercatat secara resmi. Beberapa sopir yang ditemui The Guardian mengaku mendengar soal protes itu, namun membantah ikut serta—sebuah respons yang mencerminkan betapa besar tekanan yang mereka rasakan untuk diam.

Bahkan sebuah perusahaan taksi di Wuhan secara terbuka melayangkan kritik tertulis kepada pemerintah. Surat itu menyebut bahwa maraknya kendaraan otonom telah memungkinkan teknologi “memonopoli sumber daya dan mengambil mata pencaharian masyarakat lapisan bawah.” Ketika The Guardian mendatangi kantor perusahaan tersebut pada Juli, seorang karyawan menolak diwawancarai. Ia menyebut ada kesepakatan dengan polisi dan ancaman penahanan bila berbicara kepada media.

Ribuan kilometer dari jalanan Wuhan, kegelisahan serupa menghinggapi industri kreatif di Beijing. Tian Zemin, sinematografer dengan pengalaman hampir dua dekade, kini menganggur. Tarif jasanya sebagai pekerja lepas telah anjlok menjadi hanya 40 persen dari angka yang ia terima pada 2019.



Follow Widget