Cheng Wanhui, pejabat di kawasan teknologi tinggi Zhongguancun, Beijing, mengatakan otoritas sadar akan dimensi sosial dan etika yang dibawa AI. “Kuncinya adalah semua orang mengubah pola pikir, melihat AI sebagai alat, dan belajar bagaimana menerapkannya dalam pekerjaan masa depan,” ujarnya.
Sejumlah putusan pengadilan terbaru juga mulai memberikan kompensasi kepada pekerja kantoran yang dipecat setelah peran mereka diambil alih AI. Namun bagi banyak pekerja, kekhawatiran sesungguhnya bukan soal kehilangan pekerjaan yang ada, melainkan soal semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan baru sejak awal.
Beberapa analis berpendapat China memiliki keunggulan dibandingkan Amerika Serikat dalam meredam dampak otomasi, sebab pemerintah punya kendali besar atas sektor swasta dan bisa mewajibkan perusahaan memenuhi kuota perekrutan. Namun Tian, sang sinematografer, tidak terlalu yakin dengan optimisme itu.
“Kami bisa digantikan kapan saja,” katanya. “Mungkin satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah beradaptasi secepat mungkin, dan mencoba menemukan sudut yang belum bisa digantikan AI. Tetapi sudut itu makin lama makin kecil.”
Di atas panggung World AI Conference di Shanghai bulan Juli, Presiden Xi Jinping menyerukan agar AI menjadi “pendorong penting bagi kesejahteraan bersama.” Di bawah panggung itu, Yao Xinnong masih memutar setir taksinya, berharap robotaxi tidak segera kembali. Sementara Tian Zemin menatap layar laptopnya, mencari celah yang belum tersentuh mesin.


Tinggalkan Balasan