BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Di tengah situasi tersebut, kehadiran kecerdasan buatan (AI) membawa dimensi baru dalam lanskap politik digital. Teknologi ini memungkinkan analisis data pemilih secara lebih presisi, produksi konten secara otomatis, hingga personalisasi pesan politik dalam skala besar. Namun, di balik manfaat tersebut, tersimpan potensi risiko yang tidak kecil.

Salah satu ancaman paling nyata adalah kemunculan teknologi deepfake—kemampuan AI untuk merekayasa video atau suara yang sangat menyerupai aslinya. Dalam konteks politik, teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan narasi palsu seolah-olah berasal dari tokoh publik atau pemimpin tertentu. Bagi masyarakat awam, membedakan mana yang autentik dan mana yang manipulatif menjadi semakin sulit.

Risiko ini tidak hanya berkaitan dengan penyebaran informasi palsu, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan publik. Ketika masyarakat mulai meragukan keaslian informasi yang mereka terima, kepercayaan terhadap institusi, media, bahkan proses demokrasi itu sendiri dapat tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan krisis kepercayaan yang lebih luas.

Sejumlah laporan global, seperti dari World Economic Forum, UNESCO, hingga OECD, telah menyoroti meningkatnya ancaman misinformasi berbasis teknologi, termasuk AI. Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga terus mendorong penguatan literasi digital sebagai upaya meredam penyebaran hoaks.



Follow Widget