JAKARTA, PUNGGAWATECH – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan variabel ekonomi yang kian menentukan. Ia menyebut, jika adopsi AI diperluas secara serius dan terstruktur, teknologi itu berpotensi mendongkrak Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 3,67 persen—sebuah angka yang bukan lagi sekadar proyeksi optimistis, melainkan peluang yang menuntut respons konkret.
“Daya saing hari ini tidak lagi ditentukan oleh sumber daya, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, terutama AI,” ujar Meutya dalam keterangan resminya yang dikutip Minggu, 19 April.
Meutya menilai Indonesia kini berada di titik strategis untuk menangkap momentum itu. Ekosistem digital yang terus menguat, dipadu dengan laju pertumbuhan ekonomi digital yang ekspansif, dianggap sebagai fondasi yang cukup kokoh. Namun menurutnya, fondasi saja tidak cukup jika tidak diikuti pergeseran cara pandang terhadap sumber nilai.
“Nilai kini bergeser—bukan lagi soal sumber daya alam, tetapi soal seberapa cerdas kita mengolah data menjadi solusi nyata,” katanya.


Tinggalkan Balasan