BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Di sinilah letak bahayanya: AI sesungguhnya adalah teknologi netral. Di tangan tim keamanan, AI membantu mendeteksi ancaman lebih cepat dan lebih akurat. Namun di tangan pelaku kejahatan siber, teknologi yang sama justru mempercepat dan mempermudah serangan dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya.

Salah satu manifestasi paling nyata dari ancaman ini adalah maraknya konten deepfake dan manipulasi visual berbasis AI yang beredar di media sosial. Charles menyebut banyak video yang tampak meyakinkan dan sempat viral ternyata sepenuhnya dibuat menggunakan AI. Konten semacam ini tidak hanya menyesatkan publik, tetapi juga aktif digunakan dalam modus penipuan digital yang semakin sulit dikenali oleh korban.

Yang lebih mengkhawatirkan, AI kini mulai menggerogoti sektor keuangan digital dari dalam. Para pelaku kejahatan memanfaatkan teknologi identitas sintetis — atau yang dikenal sebagai fake identity — untuk membuka rekening bank palsu secara massal. Modusnya sederhana namun efektif: cukup dengan foto dan KTP yang dimanipulasi menggunakan AI, rekening dapat dibuka tanpa terdeteksi sistem verifikasi konvensional.

Charles mengungkap fakta yang mencengangkan: sejumlah pihak perbankan telah melaporkan bahwa sekitar 50 persen dari total transaksi pembukaan rekening yang masuk terindikasi palsu atau menggunakan identitas hasil rekayasa. Angka ini bukan estimasi kasar — melainkan temuan yang disampaikan langsung oleh institusi keuangan kepada para pelaku industri keamanan siber.



Follow Widget