Kondisi ini mencerminkan kerentanan yang jauh lebih dalam dari sekadar lemahnya sistem teknologi. Ini adalah cerminan dari rendahnya kesiapan industri secara menyeluruh dalam menghadapi ancaman yang berevolusi jauh lebih cepat dari kapasitas respons yang ada.
Data dari whitepaper yang diluncurkan bersama Indosat Ooredoo Hutchison menunjukkan gambaran yang memprihatinkan: sekitar 89 persen perusahaan di Indonesia belum memiliki tingkat kematangan keamanan siber yang memadai untuk menghadapi ancaman modern. Artinya, hampir sembilan dari sepuluh perusahaan di Tanah Air masih berada dalam kondisi rentan terhadap serangan yang semakin canggih.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm yang menunjukkan betapa besarnya kesenjangan antara ancaman yang berkembang pesat dan kesiapan perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menghadapinya.
Dari sisi global, laporan terbaru perusahaan keamanan siber Kaspersky turut memperkuat kekhawatiran ini. Sepanjang 2025, lebih dari satu juta akun perbankan online berhasil dibobol oleh pelaku kejahatan siber. Yang membuat temuan ini kian mengkhawatirkan adalah perubahan metode yang digunakan para pelaku — jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan.


Tinggalkan Balasan