BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Ruang digital kini bukan lagi tempat yang aman—setidaknya bagi jutaan perempuan Indonesia yang setiap hari berhadapan dengan ancaman kekerasan seksual berbasis elektronik atau KSBE. Dari pesan-pesan tak senonoh di aplikasi obrolan, hingga foto manipulasi berbasis kecerdasan buatan yang disebarkan tanpa izin, ancaman ini bergerak diam-diam namun meninggalkan luka nyata.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Nurul Arifin, mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan kini telah bermigrasi ke ranah digital dengan wajah yang lebih beragam dan sulit dilacak. Pernyataan itu ia sampaikan di Jakarta, Jumat, 8 Mei 2026, di tengah meningkatnya keprihatinan publik atas maraknya kasus kekerasan seksual di berbagai daerah, termasuk Pati.

“Sekarang ancamannya bukan hanya di dunia nyata. Penyebaran konten intim tanpa izin, sextortion, cyber harassment, cyberstalking, hingga deepfake seksual semakin marak dan korbannya mayoritas perempuan muda,” ujar Nurul, yang juga menjabat Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar.

KSBE mencakup berbagai modus: penyebaran foto atau video intim tanpa persetujuan, perekaman diam-diam, pemerasan menggunakan konten seksual atau sextortion, hingga pelecehan melalui pesan digital dan panggilan video. Yang paling mengkhawatirkan belakangan adalah penggunaan teknologi deepfake—wajah korban ditempelkan pada gambar tubuh telanjang menggunakan kecerdasan buatan, lalu diedarkan di internet.



Follow Widget