BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

JAKARTA, PUNGGAWATECH — Ada merek-merek tertentu yang namanya bukan sekadar label pada sebuah produk, melainkan sebuah era. Pioneer adalah salah satunya. Bagi generasi yang tumbuh besar di antara dentuman subwoofer dan kilau layar plasma, nama itu bukan sekadar merek elektronik Jepang. Ia adalah standar. Ia adalah tolok ukur. Dan kini, ia nyaris menjadi artefak sejarah.

Kisah Pioneer bermula dari sebuah momen sederhana yang mengubah segalanya. Pada tahun 1937, seorang pria Jepang bernama Nozomu Matsumoto mendengarkan suara dari speaker dinamis buatan Amerika untuk pertama kalinya. Suara itu begitu jernih dan hidup hingga mengguncang jiwa Matsumoto dan membangkitkan satu tekad yang kelak mengubah industri audio dunia. Ia ingin menciptakan kualitas suara setara, bahkan melampaui itu, namun lahir dari tangan Jepang.

Tahun itu juga, Matsumoto merampungkan produk pertamanya berupa speaker dinamis berukuran 8 inci yang ia beri nama A8. Pada produk inilah untuk pertama kalinya tertera nama Pioneer beserta lambang garpu tala Omega, sebuah simbol yang kelak menjadi ikon dunia audio selama puluhan tahun. Januari 1938, ia mendirikan perusahaan di Tokyo, dan pada 1961 nama itu resmi menjadi Pioneer Electronic Corporation, setelah mereknya jauh lebih dikenal dibanding nama perusahaan pendirinya sendiri.

Dekade demi dekade, Pioneer tidak sekadar tumbuh. Ia mendominasi. Ketika Sony sibuk mengejar pasar dengan produk portabel dan Panasonic bermain di segmen massal, Pioneer memilih jalan yang berbeda dan lebih sunyi, yakni jalur kualitas audio kelas atas tanpa kompromi. Pada tahun 1970, Pioneer bahkan menjalin kongsi strategis dengan Warner Bros Records dan membentuk Warner Pioneer Corporation, mengamankan hak distribusi eksklusif artis-artis legendaris seperti Led Zeppelin, Deep Purple, dan Madonna di pasar Jepang dan sebagian Asia. Musik dijual satu paket dengan perangkat keras premium. Sebuah ekosistem hiburan yang jauh melampaui zamannya.



Follow Widget