BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Tahun 1975 menjadi tonggak lain ketika Pioneer memperkenalkan konsep car stereo modular pertama di dunia, memisahkan head unit, amplifier, dan speaker sebagai komponen yang bisa dirakit terpisah. Inovasi itu kemudian dilengkapi dengan peluncuran Laser Disc ke pasar konsumen, sebuah teknologi yang membawa kualitas video analog terbaik di eranya dan menjadi cikal bakal lahirnya CD serta DVD.

Di Indonesia, nama Pioneer lekat dengan kenangan yang tak mudah pudar. Head unit dengan teknologi Super Tuner-nya menjadi wajib bagi pemilik mobil era 90-an. Home theater Todoroki dengan dentuman subwoofer-nya adalah mimpi ruang tamu keluarga Indonesia generasi 2000-an. Sementara Pioneer CDJ seri 1000 yang dirilis tahun 2001 secara harfiah mengubah wajah dunia hiburan malam global, memungkinkan DJ melakukan scratching pada piringan CD layaknya vinyl dan memonopoli booth DJ di seluruh penjuru dunia.

Namun mahkota tertinggi Pioneer mungkin adalah televisi plasma seri Kuro. Sesuai artinya dalam bahasa Jepang yang berarti hitam, layar Kuro menghadirkan warna hitam pekat dan kontras tak terbatas yang bahkan hingga kini masih kerap dibandingkan dengan teknologi OLED terkini. Di situlah letak ironinya. Produk terbaik yang pernah Pioneer ciptakan adalah produk yang perlahan-lahan membunuh perusahaan itu sendiri.

Untuk mempertahankan standar kualitas layar Kuro, Pioneer membakar dana riset dan pengembangan dalam jumlah masif. Harga jual panel plasma tersebut menembus angka puluhan juta rupiah, jauh melampaui daya beli pasar umum. Di saat bersamaan, Samsung dan LG dari Korea Selatan membanjiri pasar dunia dengan televisi LCD yang kualitasnya cukup memuaskan, namun dijual dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Pasar dunia berbicara dengan bahasa yang tidak ingin didengar oleh para insinyur Pioneer: konsumen tidak mencari kesempurnaan, mereka mencari keterjangkauan.



Follow Widget