BERITA TERKINI
PUNGGAWANETWORK

Di dalam tubuh perusahaan terjadi perpecahan yang dalam. Pihak manajemen keuangan mendesak agar standar kualitas diturunkan demi bertahan dari tekanan pasar. Sementara tim rekayasa menolak keras, karena bagi mereka, berkompromi dengan kualitas sama artinya dengan mengkhianati identitas dan nama besar Pioneer. Stagnasi itu melukai perusahaan lebih dalam dari persaingan mana pun.

Krisis finansial global 2008-2009 menjadi pukulan terakhir. Pada 2009, Pioneer mengumumkan penghentian total produksi televisi dan menjual ratusan paten teknologi plasma mereka kepada Panasonic. Tahun 2014, divisi home audio dan video dijual kepada Onkyo, yang ironisnya juga kemudian bangkrut dan kini lisensinya berpindah tangan ke Sharp dan Voxx International. Lalu pada 2015, divisi Pioneer DJ yang selama ini menjadi mesin uang terpaksa dilepas kepada konsorsium investor KKR dan kini beroperasi secara mandiri di bawah nama Alpha Theta Corporation, bahkan tak lagi menggunakan nama Pioneer dalam produk-produk barunya.

Yang tersisa dari Pioneer Corporation hari ini hanyalah bisnis car audio dan komponen OEM, itupun kini tengah digempur oleh serbuan head unit Android murah asal Tiongkok yang menawarkan fitur selayaknya tablet PC dengan harga yang jauh lebih bersahabat.

Kisah Pioneer adalah pelajaran pahit yang relevan di segala zaman. Menjadi yang terbaik, paling sempurna, dan paling inovatif tidak selalu menjamin kelangsungan hidup. Dalam industri teknologi yang bergerak cepat, terkadang yang menang bukan yang paling sempurna, melainkan yang paling mampu membaca ke mana angin pasar bertiup. Pioneer memilih untuk tidak berkompromi dengan kualitas, dan dunia memilih untuk berkompromi tanpanya.



Follow Widget